Selesaikan Bagianmu, Sisanya Tuhan Akan Mengurusnya

Pasti kalian tahu kan, gimana sulitnya mencari kerja. Padahal banyak sekali perusahaan yang membuka lowongan pekerjaan namun usai mengirim lamaran, panggilan tes maupun wawancara tak kunjung datang. Ya, itulah yang pernah saya alami usai lulus dari perkuliahan.

Selesaikan Bagianmu, Sisanya Tuhan Akan Mengurusnya
Selesaikan Bagianmu, Sisanya Tuhan Akan Mengurusnya

 Tak pernah ada pandangan mengerucut harus kerja kemana, tak pernah terpikirkan mulai melamar darimana. Jujur ketika itu, saya bingung bukan maen, diajakin daftar CPNS ya mau-mau aja, diajakin daftar ke beberapa rumah sakit saya jalani, disuruh daftar ke perusahaan pun saya lewati.

Tapi saya mengingat-ingat kembali bagaimana perjuangan keras ketika ingin mendaftar sebagai calon mahasiswa di sebuah kampus. Baru calon aja, sulitnya minta ampun. Saat itu, saya diajak oleh sahabat dekat, ya bisa dikatakan best friend karena kita pernah satu ma`had sewaktu MA. Apa yang dia katakan?

“Ayo den, daftar ke kampus kesehatan aja, siapa tahu bisa lolos?,” ajaknya. Tanpa pikir panjang saya pun langsung mengiyakan untuk ikutan mendaftar. Tak butuh waktu lama, semua berkas dan persyaratanya telah selesai dan siap untuk dikirim.

Seingat saya, waktu itu pendaftaran sudah menggunakan sistem online, jadi semua hal termasuk administrasi semakin mudah sehingga kita tak lagi mondar-mandir. Tahukah kalian jurusan apa yang dipilih? adalah keperawatan. Tak banyak pertanyaan terlintas di pikiran, saya hanya mengikuti perkataan kedua orang tua agar tetap melanjutkan kuliah di kampus berbasis NEGRI. Tahu sendiri kan, biaya perkuliahan di kampus swasta tidak bisa dibilang murah, itulah salah satu alasan kenapa kita berdua memilih kampus negeri sebagai tujuan utama.

Penasaran dengan nama kampusnya? Eits tunggu dulu, ceritanya masih panjang. Saya sebenarnya tidak hanya mengandalkan pilihan kampus pertama yang berpusat di Semarang tapi ikut mendaftar juga lewat jalur SNMPTN dengan tujuan kampus sekelas UNDIP dan UNNES. Bahkan saya bersama the best friend sampai mendaftar ke kampus kesehatan di Solo.

Entah kurang teliti atau tidak, ternyata ujian seleksi tertulis antara kampus Semarang dan kampus Solo memiliki satu waktu dan akhirnya kita memutuskan untuk mengikuti yang ada kota Lumpia. Meski pada awalnya, saya tidak begitu yakin tapi semua hal harus dituntaskan. Bermodal nekad dan keyakinan, tibalah saat pengumuman ujian tersebut. Melalui sistem online, kita memutuskan untuk mengecek langsung ke warnet dengan rasa was-was penuh kekhawatiran.

Baca juga  Menapaki Gelora Stadion Jatidiri Untuk Pertama Kalinya

***

LOLOS, kata yang terbesit di benak saya serasa tidak percaya. Begitupun dengan sahabat saya, ia pun ikut lolos tes tertulis. Tahapan seleksi belum selesai, kita masih perlu melanjutkan ke tahap tes fisik serta wawancara. Pertama kali mengikuti tes fisik, ternyata cukup ribet harus cek darah, cek ketajaman mata, cek tinggi badan sampai cek foto thorax.

Ada satu hal tak terbayangkan ketika saya mengikuti tes tersebut, apa coba? Ya, tinggi badan. Ketika itu, saya tak sengaja mendengar percakapan orang lain kalo tinggi badan saja tidak memenuhui syarat maka kecil kemungkinan untuk lolos. Memang itu bukan mitos karena untuk mengambil jurusan keperawatan di Semarang setidaknya memiliki tinggi badan 160 cm sedangkan di luar itu minimal 155 cm (khusus laki-laki). Begitukah? Lagi-lagi saya pun tidak memperdulikanya, meski dari pihak tim seleksi tahu bahwa diri ini memang kurang dalam hal tinggi badan.

Dan apa yang terjadi selanjutnya? Saya berusaha keras menyelesaikan setiap bagian seleksi hingga batas akhir wawancara bersama para dosen dan keajaiban datang tak terduga. Saya dapat menembus rintangan tersebut, dinyatakan lolos menjadi mahasiswa keperawatan kampus utama di Poltekkes Kemenkes Semarang.

Inilah jawaban termanis dari sebuah perjuangan kecil. Saya berkali-kali mengucap syukur bahwa bahwa skenario Allah terlalu indah untuk dilupakan. Tidak ada hal yang tidak mungkin sekalipun pada awalnya dirasa sulit. Bahkan perjalanan saya belum berhenti sampai harus melawan maut di ambang kematian.

(Bersambung ke PART 2)

Semoga bermanfaat dan jangan lupa like, comment dan share agar saya bersemangat terus dalam membagikan tulisan-tulisan lainya di situs sederhana ini.

Kutunggu Komentar Bijakmu

Your email address will not be published. Required fields are marked *